Selasa, 08 November 2011

Hubungan Gizi dan Hipertensi


HUBUNGAN GIZI DAN HIPERTENSI
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai factor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah tepi dan peningkatan volume aliran darah.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).  Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa
Kategori
Tekanan Darah Sistolik
Tekanan Darah Diastolik
Normal
Dibawah 120 mmHg
Dibawah 80 mmHg
Pre-Hipertensi
120-139 mmHg
80-89 mmHg
Stadium 1
140-159 mmHg
90-99 mmHg
Stadium 2
160 mmHg atau lebih
100 mmHg atau lebih
Hipertensi Mendesak
(tanpa disertai gejala kerusakan organ)
diatas 180 mmHg
diatas 110 mmHg
Hipertensi maligna
(disertai gejala kerusakan organ)
220 mmHg atau lebih
120 mmHg atau lebih
Faktor gizi yang sangat berhubungan dengan terjadinya hipertensi melalui beberapa mekanisme. Aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya hipertensi yang berhubungan dengan diet seseorang, walaupun faktor usia juga berperan, karena pada usia lanjut (usila) pembuluh darah cenderung menjadi kaku dan elastisitasnya berkurang. Pembuluh yang mengalami sklerosis (aterosklerosis), resistensi dinding pembuluh darah tersebut akan meningkat. Hal ini akan memicu jantung untuk meningkatkan denyutnya agar aliran darah dapat mencapai seluruh bagian tubuh.
Menurut Maria C. Linder, Ph.D dari California State University, Fullerton, CA, masih menjadi perdebatan kontroversi tentang pengaruh faktor diet dan cara hidup terhadap terjadinya aterosklerosis. Namun dari beberapa kecenderungan menyatakan bahwa:
1) terjadinya plak (plaque) aterosklerosis merupakan suatu respon dari cedera pada dinding arteri terhadap kerusakan yang dibentuk oleh lapisan epitel;
2) serat makanan, Mg dan beberapa mikronutrien seperti Cr, Cu mungkin penting dalam pencegahan jangka panjang atau memperlambat aterosklerosis. Selain itu konsumsi tinggi kolesterol dan lemak yang memicu terjadinya aterosklerosis dapat berikut ini.  Aterosklerosis terjadi bila sebagian besar permukaan bagian dalam arteri besar membentuk plaque. Ada tiga macam plaque, yaitu:
1. Raise Plaque
Terdiri dari peninggian sel-sel urat daging licin, serat, lipid dan puing-puing (jaringan nekrotik adalah suatu penebalan lapisan medial), kalsifikasi dan hemoragi dari dinding arteri. Plaque tersebut menonjol ke arah lumen dan menyebabkan pengurangan aliran darah dan elastisitas pembuluh darah. Ini akan menyebabkan terbentuknya trombus yang oklusif (pembekuan) dan dapat menyebabkan infark miokardium dan stroke.
2. Plak yang disebut Fatty Streaks
Terdiri dari proferasi sel-sel urat daging licin bersama dengan berbagai lipid intra dan ekstra sekuler.
3. Fibrosis Plaque
Serat-serat tenunan pengikat membentuk semacam tutup / topi diatas lipid ekstraselluler bagian dalam dan sisa-sisa seluler membentuk pinggiran yang mengganggu lumen.      
Faktor-faktor penyebab cenderungnya dinding pembuluh darah membentuk plak antara lain: cedera mekanis, panas/dingin, zat-zat kimia, virus, homosistein dan kolesterol. Hasil pengamatan epidemiologi yang membandingkan populasi atau sub populasi di beberapa negara, menunjukkan bahwa banyak faktor cara hidup dan makanan yang menyebabkan risiko menjadi lebih besar untuk menderita penyakit kardiovaskuler. Hasil pengamatan epidemiologi yang membandingkan populasi atau sub populasi di beberapa negara, menunjukkan bahwa banyak faktor cara hidup dan makanan yang menyebabkan risiko menjadi lebih besar untuk menderita penyakit kardiovaskuler.   
Merokok, tekanan darah tinggi dan peningkatan kadar kolesterol plasma/serum adalah faktor risiko utama terjadinya asteroklerosis, sedangkan penyebab sekunder adalah stress, kurang gerak, peningkatan trigliserida plasma. Rasio kolesterol HDL : LDL berbanding terbalik dengan terjadinya asteroklerosis dan ini lebih berarti daripada hubungan dengan total kolesterol serum LDL yang berlebihan memicu terjadinya asteroklerosis pada dinding pembuluh darah. Selain konsumsi lemak yang berlebih, kekurangan konsumsi zat gizi mikro (vitamin dan mineral) sering dihubungkan pula dengan terjadinya ateroklerosis, antara vitamin C, vitamin E dan B6 yang meningkatkan kadar homosistein. Tingginya konsumsi vitamin D merupakan faktor terjadinya asteroklerosis dimana terjadi deposit kalsium yang menyebabkan rusaknya jaringan elastis sel dinding pembuluh darah.
POLA MAKAN SEHAT UNTUK MENCEGAH HIPERTENSI
Sebagaimana dijelaskan bahwa faktor penyebab utama terjadinya hipertensi adalah asteroklerosis yang didasari dengan konsumsi lemak berlebih, oleh karena untuk mencegah timbulnya hipertensi adalah mengurangi konsumsi lemak yang berlebih disamping pemberian obat-obatan bilamana diperlukan. Pembatasan konsumsi lemak sebaiknya dimulai sejak dini sebelum hipertensi muncul, terutama pada orang-orang yang mempunyai riwayat keturunan hipertensi dan pada orang menjelang usia lanjut. Sebaiknya mulai umur 40 tahun pada wanita agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi lemak pada usia mendekati menopause.
Prinsip utama dalam melakukan pola makan sehat adalah “gizi seimbang”, dimana mengkonsumsi beragam makanan yang seimbang dari “kuantitas” dan “kualitas” yang terdiri dari:
Sumber karbohidrat : biji-bijian.
Sumber protein hewani : ikan, unggas, daging putih, putih telur, susu rendah/bebas lemak.
Sumber protein nabati : kacang-kacangan dan polong-polongan serta hasil olahannya.
Sumber vitamin dan mineral : sayur dan buah-buahan segar.
PENATALAKSANAAN DIET BAGI PENDERITA HIPERTENSI
Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg, selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes mellitus.
Syarat diet pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut :
· Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang (cukup energ, protein, mineral, dan vitamin)
· Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita.
· Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis makanan dalam daftar diet.      
Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium yang terdapat dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh karena itu, dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh/hari atau dapat menggunakan garam lain diluar natrium.
Macam Diet dan indikasi Pemberian
Diet rendah garam diberikan kepada pasien dengan edema atau asitesis dan/atau hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit dekompensasio kordis, sirosis hati, penyakit ginjal tertentu, toksemia pada kehamilan, dan hipertensi esensial.
Diet Garam rendah I (200-400 mg Na)
Diet Garam Rendah I diberikan kepada paisien dengan edema, asitesis dan/atau hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur. Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na)
Diet garam rendah II diberikankepada pasien dengan edema, asitesis, dan/atau hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet Garam Rendah I. pada pengolahan makanannya boleh menggunakan ½ sdt garam dapur (2 g). Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)
Diet garam rendah III diberikan kepada pasien dengan edema dan/atau hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet Garam Rendah I. Pada pengolahan bahan makanannya boleh menggunakan 1 sdt garam (4 g) garam dapur.
MENGATUR MENU MAKANAN
Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk menghindari dan membatasi makanan yang dpat meningkatkan kadar kolesterol darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau infark jantung.
Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:
1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, craker, keripik dan makanan kering yang asin).
3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buahbuahan dalam kaleng, soft drink).
4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).
5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).
6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.
7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.
STOP : KONSUMSI DAGING KAMBING DAN DURIAN
Cara mengatur diet untuk penderita hipertensi adalah dengan memperbaiki rasa tawar dengan menambah gula merah/putih, bawang (merah/putih), jahe, kencur dan bumbu lain yang tidak asin atau mengandung sedikit garam natrium Makanan dapat ditumis untuk memperbaiki rasa. Membubuhkan garam saat diatas meja makan dapat dilakukan untuk menghindari penggunaan garam yang berlebih. Dianjurkan untuk selalu menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam jangan lebih dari 1 sendok teh per hari.
Meningkatkan pemasukan kalium (4,5 gram atau 120 – 175 mEq/hari) dapat memberikan efek penurunan tekanan darah yang ringan. Selain itu, pemberian kalium juga membantu untuk mengganti kehilangan kalium akibat dan rendah natrium. Pada umumnya dapat dipakai ukuran sedang (50 gram) dari apel (159 mg kalium), jeruk (250 mg kalium), tomat (366 mg kalium), pisang (451 mg kalium) kentang panggang (503 mg kalium) dan susu skim 1 gelas (406 mg kalium).
Kecukupan kalsium penting untuk mencegah dan mengobati hipertensi: 2-3 gelas susu skim atau 40 mg/hari, 115 gram keju rendah natrium dapat memenuhi kebutuhan kalsium 250 mg/hari. Sedangkan kebutuhan kalsium perhari rata-rata 808 mg.
Pada ibu hamil makanan cukup akan protein, kalori, kalsium dan natrium yang dihubungkan dengan rendahnya kejadian hipertensi karena kehamilan. Namun pada ibu hamil yang hipertensi apalagi yang disertai dengan bengkak dan protein urin (pre eklampsia), selain obat-obatan dianjurkan untuk mengurangi konsumsi garam dapur serta meningkatkan makanan sumber Mg (sayur dan buah-buahan).

Daftar Pustaka
Kurniawan A. 2002. GIZI SEIMBANG UNTUK MENCEGAH HIPERTENSI.  Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat.
Almatsier S. 2004. Penuntun Diet. Jakarta :PT Gramedia Pustaka Utama.

Minggu, 06 November 2011

Waspadai Urtikaria!

 Urtikaria
Urtikaria merupakan reaksi kulit yang paling sering dijumpai yang dapat mengakibatkan edema dan eritema. Selain itu urtikaria dapat diartikan pula  erupsi pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa gatal. Erupsi kulit sementara ini kelihatannya seperti benjolan tipis eritematosa dan papula dengan vasodilatasi kulit dan pembuluh darah subkutan yang disertai edema pada sekeliling jaringan. Kadangkala timbu angiodema disertai pembengkakan bibir, lidah, kelopak mata dan laring yang menyertai urtikaria kulit (Price & Wilson 2003)
Terdapat beberapa jenis urtikaria, yaitu urtikaria yang dimediasi IgE atau urtikaria akut, urtikaria yang tidak dimediasi IgE, urtikaria vaskulitis, urtikaria autoimun, dan lain sebagainya. Urtikaria dapat berlangsung secara akut dan kronik. Urtikaria akut biasanya berlangsung beberapa kurang dari 4-6 minggu (biasanya 2-3 hari), biasanya terjadi karena makanan, obat, dan infeksi, tetapi lebih dari separuh tidak diketahui penyebabnya. Urtikaria kronik, yaitu urtikaria yang berlangsung lebih dari 6 minggu. Perjalanan penyakitnya lebih jinak dan dapat hilang timbul (Graber et al. 2006).
Etiologi Urtikaria
 
Patofisiologi Urtikaria
Gangguan urtikaria menunjukkan adanya dilatasi pembuluh darah dermal di bawah kulit dan edema (pembengkakan) dengan sedikit infiltrasi sell perivaskular, di antaranya yang paling dominan adalah eosinofil. Kelainan ini disebabkan oleh mediator yang lepas, terutama histamin, akibat degranulasi sell mast kutan atau subkutan, dan juga leukotrien dapat berperan. Histamin akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah di bawah kulit sehingga kulit berwarna merah (eritema). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan dan sel, terutama eosinofil, keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan pembengkakan kulit lokal. Cairan serta sel yang keluar akan merangsang ujung saraf perifer kulit sehingga timbul rasa gatal. Terjadilah bentol merah yang gatal. Bila pembuluh darah yang terangsang adalah pembuluh darah jaringan subkutan, biasanya jaringan subkutan longgar, maka edema yang terjadi tidak berbatas tegas dan tidak gatal karena jaringan subkutan mengandung sedikit ujung saraf perifer, dinamakan angioedema. Daerah yang terkena biasanya muka (periorbita dan perioral) (Judarwanto 2009).
Urtikaria disebabkan karena adanya degranulasi sel mast yang dapat terjadi melalui mekanisme imun atau nonimun. Degranulasi sel mast dikatakan melalui mekanisme imun bila terdapat antigen (alergen) dengan pembentukan antibodi atau sel yang tersensitisasi. Degranulasi sel mast melalui mekanisme imun dapat melalui reaksi hipersensitivitas tipe I atau melalui aktivasi komplemen jalur klasik. Beberapa macam obat, makanan, atau zat kimia dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast. Zat ini dinamakan liberator histamin, contohnya kodein, morfin, polimiksin, zat kimia, tiamin, buah murbei, tomat, dan lain-lain. Masih belum jelas mengapa zat tersebut hanya merangsang degranulasi sel mast pada sebagian orang saja, tidak pada semua orang (Judarwanto 2009).
Gejala Urtikaria
Faktor pencetus urtikaria, antara lain adalah makanan tertentu (terutama telur, ikan, kerang-kerangan, kacang-kacangan, susu, bahan pengawet makanan, bahan kimia yang ditambahkan ke dalam makanan, dan zat pewarna makanan), obat-obatan, bahan hirupan (inhalan), infeksi, gigitan serangga, faktor fisik, faktor cuaca (terutama dingin tapi bisa juga panas berkeringat), faktor genetik, bahan-bahan kontak (misalnya: arloji, ikat pinggang, karet sandal, karet celana dalam, dll) dan faktor psikis. Urtikaria terjadi sebagai akibat pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kepekaan pembuluh darah kecil (kapiler) sehingga menyebabkan pengeluaran cairan dari dinding pembuluh darah, akibatnya terjadi bentol pada kulit. Kondisi ini dikarenakan adanya pelepasan histamin yang dipicu oleh paparan allergen. Urtikaria mudah dikenali yaitu bentol atau bercak meninggi pada kulit, berwarna merah dan berwarna keputihan jika ditekan, gatal, dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran. Penampakan urtikaria beragam, mulai yang ringan berupa bentol merah dan gatal hingga bengkak pada kelopak mata (bisa satu mata atau keduanya), bibir, daun telinga dan adakalanya disertai demam (Dinajani 2003).
Pengobatan Urtikaria
            Pada kebanyakan keadaan, urtikaria merupakan penyakit yang sembuh sendiri yang memerlukan sedikit pengobatan lainnya, selain dari antihistamin. Hidroksizin (Atarax), 0,5 mg/kg, merupakan salah satu antihistamin yang paling efektif untuk mengendalikan urtikaria, tetapi difenhidramin (Benadryl), 1,25 mg/kg, dan antihistamin lainnya juga efektif. Jika perlu, dosis ini data diulangi pada interval 4-6 jam. Epinefrin 1:1000, 0,01mL/kg, maksimal 0,3 mL, biasanya menghasilkan penyembuhan yang cepat atas urtikaria akut yang berat. Hidroksizin (0,5 mg/kg setiap 4-6 jam) merupakan obat pilihan untuk urtikaria kolinergik dan urtikaria kronis. Penggunaan bersama antihistamin tipe H1 dan H2 kadang-kadang membantu mengendalikan urtikaria kronis (Arvin 2000).
            Menurut Price & Wilson (2003) urtikaria diobati secara simptomatik. Urtikaria akut yang disertai angiodema diobati dengan epinefrin subkutan. Urtikaria yang tidak terlalu parah diobati dengan pemberian antihistamin reseptor-H1 oral seperti difenhidramin, hidroksizin, siproheptadin, dan cetirizin. Obat-obat ini dapat menyebabkan rasa kantuk yang berat; pasien harus diberitahu tentang efek samping yang menimbulkan bahaya ini. Antihistamin nonsedatif reseptor H1 termasuk feksofenadin, loratidin, sedikit kurang efektif namun dapat digunakan pada pagi hari dan siang hari. Antidepresn trisiklik seperti doksepin dapat digunakan pada pasien yang resisten terhadap terapi. Antihistamin reseptor H2 seperti simetidin juga berguna. Profilaksis angioderma herediter dapat dicapai dengan agen antifibrinolitik (asam E-amino-kaproik) dan androgen (danazol).
Anjuran Gizi Urtikaria
Pengobatan urtikaria dilakukan dengan cara semua faktor presipitasi (obat-obatan, zat pewarna, makanan) harus disingkirkan. Menghindari makanan seperti: coklat, pewarna azobenzen, keju, kerang, kacang, telur, susu, tomat, dan buah berry segar dapat juga dicoba (Price & Wilson 2003). Alergi makanan yang diperantarai oleh IgE jarang terjadi pada urtikaria, tetapi pada pasien dengan reaksi pseudoallergi urtikaria kronis alaminya terjadi  karena dari bahan makanan dan dalam beberapa kasus terlihat karena zat aditif dari makanan. Dalam kasus ini diet yang mengandung hanya sedikit makanan pseudoalergi alami dan buatan harus ditetapkan dan dipertahankan untuk jangka minimal 3 sampai 6 bulan. Selama ini remisi spontan ini dicapai pada sekitar 50% pasien. Perlu dicatat bahwa menghindari gejala alergi Tipe I dapat membersihkan urtikaria dalam 24 hingga 48 jam sebagai alergen yang relevan yang dapat dihilangkan dengan cepat, sementara makanan pseudoalergi harus dipertahankan selama 2 atau 3 minggu sebelum efek menguntungkan terlihat. Diet jarang berguna untuk subtipe urtikaria dari urtikaria kronis (Zuberbier & Maurer 2007).

Daftar Pustaka
Arvin BK. 2000. Nelson Text Books Of Pediatrics. Di dalam: Wahab SA, editor. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Dinajani A. 2003. Penatalaksanaan Penyakit Alergi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Graber MA, Toth PP, Herting RL. 2006. Buku Saku Dokter Keluarga University Of Lowa Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Judarwanto W. 2009. Urtikaria Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa. http://childrenallergyclinic.wordpress.com [18 September 2011].

Zuberbier T, Maurer M. 2007. Urticaria: current opinions about etiology, diagnosis and therapy. Acta Derm Venereol 87: 196–205.

Price SA, Wilson LM. 2003. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.